Melbourne, Jatuh Cinta pada Kunjungan Pertama

12:18 Traveling Precils 21 Comments

Flinders Street Station. Foto oleh Anindito Aditomo
Melbourne memang tidak punya harbour spektakuler seperti Sydney, tapi atmosfernya, suasananya dan terutama trem-nya membuat kami langsung jatuh cinta!

Kami mengunjungi Melbourne musim panas tahun lalu, berbarengan dengan Si Ayah yang menghadiri konferensi yang diadakan Melbourne University. Kami memutuskan liburan kali ini hanya di kota saja, karena Si Ayah juga tidak bisa selalu menemani kami mengeksplorasi Melbourne. Saya biarkan Big A ikut mengambil keputusan tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Dengan pelan dan santai, kami berkenalan dengan kota ini. Tak terasa 5 hari berlalu begitu cepat ketika liburan :)

Dari Sydney, kami naik pesawat murah Jetstar (Syd - Mel $39 per orang) dan mendarat di bandara Avalon. Melbourne mempunyai dua bandara: bandara utama Tullamarine yang lebih dekat dengan kota (20 menit dengan bis), dan bandara kecil Avalon yang jarak tempuhnya sekitar 50 menit dari pusat kota. Biasanya harga tiket pesawat dari dan ke Avalon ini lebih murah daripada Tullamarine. Dari Avalon, kami menumpang bis SitaCoaches yang memang khusus menjemput dan mengantar dari bandara Avalon ke Southern Cross Station Melbourne. Tarif dewasa $20 dan anak-anak $10, di bawah 4 tahun gratis.

Kedatangan kami di Melbourne disambut gerimis di bulan Desember. Jangan salah, seharusnya Desember adalah musim panas di Aussie. Namun Melbourne memang terkenal sebagai kota empat musim dalam sehari. Jadi harus siap-siap berganti musim setiap saat. Bisa saja pagi hujan, siang panas dan malam dingin :p Kami yang tidak menyiapkan payung sebelum hujan terpaksa berlari-lari kecil menerjang gerimis menuju halte trem. Maksud kami naik trem city circle yang gratis, menuju apartemen.

Selama di Melbourne, kami menginap di apartemen Milano. Ulasan tentang apartemen ini saya tulis di sini. Karena cek in baru boleh setelah jam 2 siang, kami menitipkan koper dulu di sini. Lalu melanjutkan perjalanan ke Federation Square, kembali naik trem gratisan :)

Pasar Minggu di Federation Square. Foto oleh Anindito Aditomo
Federation Square, dari seberang jalan. Foto oleh Anindito Aditomo
Tujuan pertama kami langsung ke Melbourne Visitor Centre yang terletak di Federation Sq untuk mengambil peta, brosur dan kupon-kupon diskon. Di sini juga bisa booking akomodasi, guided tour dan atraksi wisata lainnya. Kompleks Federation Square ini wajib dikunjungi selama di Melbourne. Fed Sq adalah semacam tempat berkumpul orang-orang Melbourne, di Atrium dan lapangan terbukanya sering diadakan acara. Ketika kami ke sana sedang ada pasar seni Minggu. Di situ juga ada National Gallery of Victoria - NGV - (termasuk pojok khusus untuk anak-anak) dan The Australian Centre for the Moving Image.

sepeda yang bisa disewa. foto oleh Anindito Aditomo
Setelah makan siang di Nandos di depan Federation Sq, kami kembali ke apartemen untuk cek in dan beristirahat. Kebetulan sore itu beberapa teman lama kami dari Jogja yang sedang tinggal di Melbourne akan mampir ke apartemen. Ngobrol-ngobrol cantik dilanjutkan makan malam di Halal Dumpling di Swanston St. Pengen sekali merekomendasikan tempat ini karena ayamnya yang enak dan super pedas. Big A juga suka banget dengan dumplingnya. Sayangnya, menurut teman kami, resto enak ini sekarang sudah tutup :|

Tiga hari berikutnya, saya harus jalan-jalan bertiga saja dengan The Precils, sementara Si Ayah menghadiri konferensi. Nggak papa sih, saya asyik-asyik saja jalan sama The Precils. Sebenarnya Big A ingin sekali ke Luna Park Melbourne karena dia ingin membandingkan dengan Luna Park yang ada di Sydney. Tapi sayang sekali, di luar libur sekolah, Luna Park Melbourne hanya buka di akhir pekan. Untuk mengobati kekecewaan Big A, saya berjanji akan mengantar dia bermain di Galactic Circus.

Petunjuk arah di Federation Square. Foto oleh Anindito Aditomo
Hari kedua saya mengajak The Precils melihat pameran tentang pembuatan film Disney Princess di Australian Centre for the Moving Image (ACMI). Di pameran, kita bisa melihat sejarah pembuatan film, dari mana datangnya ide, sketsa pertama, foto-foto perkembangan penggambaran tokoh dan pemutaran film-film asli lama di layar lebar. Menarik sekali melihat perkembangan princess Disney ini, dari Snow White, Cinderella, Beauty and The Beast, Princess and The Frog dan yang terakhir Rapunzel. Saya mengamati, seiring berjalannya waktu, Disney semakin memberi karakter yang lebih kuat untuk princess-princess-nya. Di film lama, tokoh princess selalu menjadi orang yang teraniaya dan menunggu diselamatkan pangeran. Di film-film barunya, tokoh princess digambarkan lebih kuat dan bisa menentukan nasibnya sendiri. Big A setuju dengan pengamatan saya :)

Dari ACMI kami lanjut bermain-main di taman Birrarung Marr di belakang Federation Sq. Lumayan menghibur untuk Big A yang masih kecewa tidak bisa ke Luna Park. Kami mau ke NGV tapi sayangnya Kids Corner tutup di hari Senin. Akhirnya diputuskan kami keliling kota dengan naik trem gratis sampai di Docklands dan kembali ke apartemen. Kami habiskan sore dengan berenang sambil menunggu si Ayah pulang.

Hari Ketiga saya mengajak The Precils jalan-jalan ke Queen Victoria Market, pasar tradisional yang wajib dikunjungi selama di Melbourne, semacam Paddys Market kalau di Sydney. Pasar ini tutup setiap Senin dan Rabu. Ternyata QVM ini dekat sekali dengan apartemen kami, cukup jalan dua blok. Pagi hari, suasana belum ramai, para pedagang baru membuka lapak-lapak mereka. Menurut saya, pasar ini lebih luas, lebih bersih dan lebih nyaman daripada Paddys di Sydney. Jalan antar lapaknya juga lebih luas, sehingga tidak perlu berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Barang yang dijual bermacam-macam mulai mainan, fesyen sampai bahan-bahan segar seperti buah, sayur mayur dan bumbu-bumbu. Tak ketinggalan, barang-barang souvenir untuk oleh-oleh juga dijual di sini, tapi penjual souvenir tidak sebanyak di Paddys Sydney.

Saya keluar pasar menenteng topi, sabuk, magnet kulkas, untuk kenang-kenangan sudah pernah ke Melbie :p Sementara The Precils cukup senang membeli loli raksasa dan mainan halma dari kayu. Dari Pasar, kami melanjutkan perjalanan dengan bis turis yang juga gratis menuju Melbourne Museum.

Big A males banget disuruh foto di depan musem :p

Biaya masuk Melbourne Museum $10 untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak. Ada banyak pameran permanen di sini, tapi kami hanya mengunjungi sebagian saja. Yang menarik adalah The Melbourne Story yang menampilkan sejarah perkembangan kota Melbourne. Benda-benda yang dipajang, foto dan film yang diputar di galeri ini sangat menarik. Saya menikmati cerita sejarah trem Melbourne dari foto-foto lama yang dicetak besar di dinding, juga dari trem asli dari kayu yang dipajang. Big A senyum-senyum simpul ketika mencoba duduk di replika ruang keluarga tahun 60-an, dengan sofa tua, tivi hitam putih dengan tombol yang diputar (nggak ada remote). Saya cerita seperti itulah 
masa kecil saya di tahun 80-an. Big A bilang, "Really? How could you live without TV remote, computer and games? Life was so hard in your days." :D

Little A dan Big A sedang akur di kids corner

Setelah menikmati makan siang di kafenya, dengan menu standar fish and chips, kami menghabiskan waktu bermain-main di pojok khusus anak-anak. Di sini Little A betah sekali mengeksplorasi galeri anak-anak yang menampilkan perkembangan hewan dari spesimen yang diawetkan. Big A tidak suka dan cenderung takut dengan hewan-hewan yang diawetkan ini. Untungnya keduanya bisa gembira bermain bersama di taman di luar, yang menyediakan berbagai macam permainan tradisional versi Aussie.

Dari Melbourne Museum, kami memutuskan jalan kaki kembali ke apartemen, yang ternyata tidak jauh, bisa ditempuh sekitar 15 menit. Menunggu si Ayah, The Precils kembali berenang.

Little A mengamati orang-orang menyusuri sungai Yarra dengan kano

Hari Keempat, seperti yang sudah saya janjikan ke Big A, kami jalan-jalan ke Galactic Circus di Crown Entertaintment Complex di South Bank. Big A sama sekali tidak terkesan dengan sungai Yarra. Kalau Little A masih sempat terhibur melihat orang-orang menyusuri sungai dengan kano dan melambai-lambai ke arahnya. Setelah jalan-jalan sebentar di pinggir sungai Yarra ini, perjuangan mencari Galactic di kompleks Crown Casino dimulai. Ternyata mencari lokasi Galactic tidak semudah yang saya kira. Crown adalah kompleks bangunan besar yang berisi hotel, butik mewah, restoran dan casino. Pintu masuknya ada beberapa. Di dalam kompleks, tidak ada petunjuk jalan menuju Galactic dan tidak ada peta direktori. Kami sampai tersesat di pintu masuk Casino dan dipelototin satpam. Padahal maksud saya hanya bertanya di mana letak Galactic. Akhirnya ketemu juga setelah kami berjalan sampai ke ujung gedung, keluar dari kompleks dan turun tangga. Galactic ini tempatnya nyempil banget, sebenarnya sudah diluar kompleks crown, tapi masih nempel. Untungnya Big A puas sekali main di sini yang mirip dengan TimeZone di Indonesia.

Perjalanan kami lanjutkan ke Royal Botanic Garden yang katanya punya kebun khusus untuk anak-anak. Dari Crown, kami kesana menumpang bis turis yang gratis. Sayangnya ketika kami datang di musim panas, tanaman-tanaman di Children's Garden sudah layu. Tapi kompleks kebun anak ini masih bisa dinikmati, ada gubuk dengan kolam, hutan kecil berisi pohon-pohon tropis termasuk bambu, sungai buatan kecil, dan air mancur yang meluncur bergantian di tengah-tengah kebun. Sudah bisa ditebak, setiap ketemu air mancur, The Precils pasti berbasah-basah. Untung saya sudah siap-siap bawa baju ganti. Sorenya kami disambut hujan lagi. Terpaksa saya membeli payung di RBG shop yang harganya tiga kali lipat harga di toko kelontong. Agak sial, bis (gratis) yang kami tunggu-tunggu tidak datang. Terpaksa kami jalan lumayan jauh menuju halte trem, naik trem yang harus bayar sampai di jalan depan apartemen.
berbasah-basah di air mancur Children's Garden RBG

Hari terakhir di Melbourne, Si Ayah ikut menemani kami jalan-jalan. Pagi-pagi kami keluar dari apartemen dan menuju Southern Cross Station untuk menaruh koper-koper kami di loker sewaan. Tiga koper kami muat di loker besar dengan sewa $12 untuk 24 jam. Kami juga membeli tiket terusan MetCard $7 untuk dewasa dan $3.80 untuk anak-anak yang berlaku untuk satu hari untuk naik semua trem, bis dan kereta dalam zona 1. Setelah itu kami lanjut jalan-jalan lagi menyusuri CBD. Perhentian pertama adalah Bourke St yang ramai dengan orang lalu lalang dan juga pengamen. Kemudian lanjut dengan mencari kafe Brother Baba Budan di 359 Little Bourke St yang katanya punya kopi paling enak se Melbourne. Saya sebagai pecinta kopi harus membuktikan dong. Ehm, ternyata memang mantap kopinya. Seperti biasa The Precils kebagian hot chocolate. Kami duduk-duduk di depan kantor pos di King st ketika ada SPG yang membagi-bagikan minuman susu coklat dingin. Lumayan dapat rezeki :)

pengamen di Bourke St
The Emak nampang di depan GPO. itu dompet gedhe banget isinya apa ya?

Saya di Melbourne tidak belanja macam-macam, hanya aksesoris ketika mampir di QV Market. Jadi jalan-jalan menyusuri mal di Bourke St ini sekedar lihat-lihat dan foto-foto doang. Salah satu Mal dengan bangunan tua yang unik adalah The Block. Dalamnya terdapat kubah atau dome. Mungkin seperti Queen Victoria Building di Sydney.

Hari itu, entah berapa kali kami naik tram bolak-balik jalan-jalan di Melbourne yang kotak-kotak seperti blok. Dari kawasan perbelanjaan, kami menuju NGV Kids Corner di Federation Sq. Tempatnya tidak besar, tapi dari display dan aktivitas yang diberikan, cukup merangsang imajinasi anak-anak. Begitulah, di negara maju, anak-anak sudah dikenalkan seni sejak kecil, mengasah nalar dan kreativitas mereka.
Big A dan Little A betah banget di NGV Kids Corner

Karena The Precils betah banget di NGV Kids, makan siang kami agak telat. Kali ini kami ingin mencoba Nelayan, restoran Indonesia yang lumayan terkenal di Swanston St. Begitulah, jauh-jauh ke Melbourne makannya tetap pengen nasi dan lauk Indonesia. Rasa masakan dan harganya tidak terlalu istimewa, sekitar $12 untuk sepiring nasi, satu sayur dan dua lauk.
di depan resto Nelayan, Swanston St

Kenyang, kami lanjut ke NGV International di South Bank yang menampilkan koleksi benda-benda seni dari seniman internasional. Galeri ini gratis dan terbuka untuk umum. Saya yang tidak begitu paham seni lumayan bisa menikmati koleksi lukisan dari abad pertengahan Eropa. Kami menghabiskan waktu sampai galeri tutup jam 5 sore.

Masih ada waktu bermain-main di pelataran State Library di Swanston St menunggu bis jemputan kami menuju bandara Avalon. Penerbangan dari Avalon ke Sydney sempat tertunda setengah jam karena cuaca buruk. Kami sampai tengah malam di rumah dengan menumpang taksi dari bandara Sydney.

Sebenarnya masih ada beberapa tujuan wisata populer di luar kota Melbourne, di antaranya Sovereign Hill di Ballarat dan Philip Island. Semoga suatu saat nanti kami bisa ke Melbourne lagi, khusus acara jalan-jalan aja :)

~ The Emak

You Might Also Like

21 comments:

  1. Mbak,bus gratis utk turis ciri2nya gmna?trus ada nya di mana aza?thanks ya

    ReplyDelete
  2. bis gratis untuk turis warna merah, hanya berhenti di halte khusus.
    tentang bis dan trem gratis sudah saya tulis di artikel ini:
    http://www.thetravelingprecils.com/2011/08/teng-teng-teng-trem-gratis-keliling.html

    ReplyDelete
  3. Ellyn Brahmana8.2.12

    Mbak, karena saya ke Melbourne di Agustus'12 ini (lagi musim dingin yaaa), tempat wisata mana saja ya yang utama yang kami datangi, rencana kami hanya 3 hari di Melbourne. Makasih. Salam hangat.

    ReplyDelete
  4. Ellyn, kalau cuma 3 hari mending jalan-jalan dalam kota aja naik trem gratis. Ikuti itinerary seperti cerita saya di atas.

    ReplyDelete
  5. Anonymous14.2.12

    hello sis, salam kenal.. i really enjoy reading ur blog :) oya sis, saya mau tanya, saya rencana berlibur ke aussie musim dingin nanti. lagi browsing dapet info main ski di mt. buller, victoria. tapi boleh ga saya minta recommend dari sis ni soal libur musim dingin yg highly recommended? thanks a lot :)

    ReplyDelete
  6. halo, kami blm pernah ke Mt Buller, tapi katanya tempatnya asyik. Yg sdh pernah ke Snowy Mountain, 6 jam drive dari Sydney. Pernah saya tulis di sini:
    http://www.thetravelingprecils.com/2011/07/mencicipi-salju-di-snowy-mountain.html

    ReplyDelete
  7. Anonymous24.2.12

    hallo mbak,salam kenal dr arek suroboyo,,ntr 6-14 april selama 8 hari ke aussie,turun di sydney,,seorang diri dan belom pernah ke LN,plz help me.kemana aja sebaiknya sy kunjungi?? itinerary sydney n melbourne aja dan rencana mau stay di hostel backpacker aja,mengirit biaya,kasih info hostel di sydney n melbourne yg indonesian suka dimana mbak?,mbk,apakah booking di agoda gtu dpt dipercaya? mbk boleh minta alamat email? kayaknya sy ntr banyak tanya2 ke mbak,,aman kan mbk walo cewe jalan sendiri d aussie like "stupid tourist" thanks mbk..

    ReplyDelete
  8. halo, salam kenal. kota2 di Australia aman kok untuk dikelilingi seorang diri.
    Itinerary Sydney pernah kutulis di sini: http://www.thetravelingprecils.com/2011/07/top-10-wajib-dilakukan-di-sydney.html

    Aku blm pernah nginap di hostel, bawa the precils soalnya. kalau hostel yang populer namanya YHA, coba kamu cek www.wotif.com
    Biasanya aku pakai Agoda utk booking hotel di Asia, tapi kalau utk Australia, mending booking via Wotif karena pilihannya lebih banyak.

    kalo mau tanya2 lagi via email aja ya:
    travelingprecils[at]gmail[dot]com

    ReplyDelete
  9. ada ulasan ttg Vegemite (semacam fermentasi bir yg biasa dijadikan selai oleh org australia)? saya pernah dikasi Vegemite sama orang sono dan yang suka Vegemite malah adik saya. hahaha

    ReplyDelete
  10. belum menulis ttg vegemite. orang Indonesia-nya yg tinggal di sini menyebutnya 'terasi Aussie' :) Saya nggak begitu suka. Anak saya yg paling kecil, Little A seneng bgt vegemite karena di sekolahnya selalu dikasih utk morning/afternoon tea.

    ReplyDelete
  11. Eviriane3.5.12

    Makasih ya Mbak The Emak, hehehe. Kami akan ke Melb juga July 12. Akan coba mengikuti rutenya Mbak. Tapi aku bawa anak 3 nih Mbak, 14, 13 dan 9 tahun. Sulit gak ya nenteng2 anak2 buat mencari lokasi trem2 gratis? Biasanya mereka males jalan jauh, capek katanya. Lah kalau kemana mana naik taksi atau sewa mobil, pastinya mahal..... Gimana tipsnya, Mbak?

    ReplyDelete
  12. Makasih Eviriane sudah mampir ke blog ini :)
    Nenteng anak yg udah gedhe sama susahnya ya dg yg msh balita :p coba cari penginapan sejalur dg halte trem gratis. atau beli aja tiket terusan harian, jd bisa naik trem yg bayar juga. ini haltenya ada di mana2, jalan kaki paling banter 100m.
    saya tidak sarankan naik taksi atau mobil kalo jalan2nya di dalam kota. naik taksi jd gak bisa menikmati suasana kota. naik mobil di dlm kota Melbourne ribet bgt, rebutan jalurnya ama trem dan hrs nyetir sendiri lho, gak ada yg sewain mobil plus sopir kayak di Indonesia.
    saranku sih ajak anak2 utk ikut merencanakan itinerary. mereka senangnya apa? mungkin perlu mampir2 di toko es krim/kue-kue/tempat main game dll. selang-seling antara kesenangan anak2 dan kesukaan kita.

    good luck ya :)

    ReplyDelete
  13. Melbourne is one of the best place for holiday vacation. Such a nice article post, thanks for sharing with us.

    ReplyDelete
  14. @coach hire gold coast
    no worries :)

    ReplyDelete
  15. Anonymous18.3.13

    Halo salam kenal,
    Saya mau tanya tentang visa australia, apa bisa minta alamat emailnya?
    Atau tolong email sya di ayuchand12a@gmail.com
    Terimakasih :)

    ReplyDelete
  16. @ayuchand
    tentang Visa Australia pernah saya tulis di sini -->
    http://www.thetravelingprecils.com/2011/06/tips-mengajukan-visa-turis-australia.html

    kalo masih ada pertanyaan, email aja di: travelingprecils[at]gmail[dot]com

    ReplyDelete
  17. melbourne sangat menyenangkan. one of the best cities i've ever visited. kemarin kami juga ke federation square dan menghabiskan satu hari untuk nonton Australia Open 2012. Fun!!

    ReplyDelete
  18. @Thea
    Ah, nonton Australia Open salah satu impianku juga, sayangnya belum kesampaian.

    ReplyDelete
  19. Anonymous29.6.15

    Looking for a new home?
    Or move into a new place of stay?
    Need to list your current accommodation?
    Stuck in your current lock-in contract fee?
    We can help you with that!

    Who is Koskosan Australia?
    A company that assist both the landlord and tenants to find each other, and providing additional services that mediates the process to make it as simple as possible, and as convenience as possible.

    Our Services:
    - List your accommodations on our website
    - Promote your apartments on our social medias
    - Assist you in looking for short term accommodation in Australia
    - Assist you in looking for long term accommodation in Australia
    - Assist you in giving informations about living in Australia

    Contact Us:
    +61 401 319 839
    +62 812 9888 6702
    hello@koskosan.com.au

    Website: www.koskosan.com.au
    Instagram: www.instagram.com/koskosan_australia
    Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Kosko...80097145381344

    ReplyDelete
  20. Review-nya bagus. Saya kebetulan pernah ke Ballarat, dengan naik kereta dari Melbourne, keren memang tempatnya. Itu bekas lokasi penambangan emas yang dijadikan objek wisata.

    ReplyDelete
  21. Yeaysss! Makasih ya rekomendasinya

    Sepupuku yg kuliah disana malah pengen lama2 di Melbourne karena kota-nya homie :'D

    Mei tahun depan saya mau kesana!

    - Utie

    ReplyDelete